Lima Tren Baru dalam Perdagangan Internasional

INDOSINPO – Indonesia Economic Forum yang ke-7 mempertemukan para pemimpin politik, bisnis, pemerintah, pemrakarsa dan pemimpin komunitas untuk membahas visi Indonesia di tahun 2020 untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi pasca COVID-19.

Forum ini pertama kalinya akan diselenggarakan secara virtual pada Selasa-Kamis, 24-26 November 2020.

Berkolaborasi dengan HSBC Indonesia untuk ketiga kalinya, Indonesia Economic Forum tahun ini mengusung tema “2020 Vision: Rebooting Economic Growth Post COVID-19.

Setelah mengalami penurunan ekonomi yang tajam sejak krisis keuangan Asia, Indonesia sedang berada dalam masa pemulihan perekonomian. COVID-19 telah mempercepat perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan telah menciptakan peluang baru.

Pada hari kedua yang mengambil tema “Emerging Trends in Global Trade”, diskusi panel terbagi dalam tiga sesi.

Pada sesi pertama, menghadirkan pembicara utama Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, dan disusul dengan sesi diskusi panel oleh berbagai pembicara seperti Asst Prof of International Studies, Hamilton Lugar School of International Studies, Indiana University, Bloomington, Prof. Sarah Danzman; Lead Advisor, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia Dr. Lili Yan Ing; serta Wakil Ketua Kadin bidang Hubungan Internasional, Shinta Kamdani.

Diskusi panel ini dimoderasi oleh Deputi Direktur Bidang Kerja Sama Ekonomi Multilateral, Kemenko Perekonomian Dr. Muhammad Hadianto.

Dalam sambutannya, Jerry Sambuaga menekankan pentingnya kerjasama Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bagi negara anggota khususnya kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Kerjasama ini mengangkat tema keberlanjutan, karakteristik unik negara-negara anggota dan volume perdagangan antar anggota.

Berbeda dengan kawasan Uni Eropa dan Amerika Serikat, menurut Jerry, kawasan Asia Tenggara lebih terbuka terhadap kerjasama perdagangan multilateral yang tentunya bisa diperluas ke negara anggota lain di luar Asia Tenggara seperti Australia, Korea Selatan, Jepang, India, Tiongkok dan Selandia Baru.

“Bagi kawasan Asia Tenggara, RCEP adalah kerjasama terbesar kedua setelah WTO. Harapannya ini juga bisa menarik kerjasama perdagangan dengan negara di kawasan lain. Saya melihat RCEP ke depan akan berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi di kawasan, mengingat secara kebijakan politik perdagangan antar anggota sangatlah identik dan kawasan lain seperti Asia Selatan semoga bisa melakukan kerjasama perdanganan dengan kita, mengingat pasar yang besar. Kita harus sama-sama memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya. Saya harap sesi diskusi panel ini bisa menghasilkan outcome yang positif untuk kemajuan kita bersama,” kata Jerry.

Prof. Sarah Danzman menekankan bahwa saat ini aktivitas perdagangan material secara global masih berjalan. Namun demikian, banyak tantangan yang harus dihadapi, meskipun baru-baru ini pemerintah Amerika Serikat yang baru memberikan sinyal positif terkait kebijakan perdagangan internasional mereka.

“Meskipun pemerintahan AS yang baru, Joe Bidden dan Kamala Haris terlihat sangat terbuka untuk mengubah kebijakan perdangan internasional mereka, namun mereka juga perlu tetap memperhatikan kepentingan kelas pekerja dan kelas menengah mereka sendiri. Kerjasama dan negosiasi perdangan dengan negara- negara lain seperti Asia Pasifik misalnya, saya rasa masih akan berjalan lambat karena alasan kebijakan yang memprioritaskan kepentingan domestik tadi. Secara umum aktivitas perdagangan material global masih akan menghadapi tantangan yang cukup berat, tapi saya tetap optimistis,” kata Prof. Sarah.

Shinta Kamdani menyatakan untuk bisa memanfaatkan momentum penataan ulang landskap perdagangan internasional, Indonesia harus membangun ekosistem yang mendukung iklim usaha dan investasi. Agar para pemain lokal bisa kompetitif, sekali lagi pemerintah perlu benar-benar mengimplementasi kebijakan yang tepat, tidak hanya mencanangkannya semata.

“Refomasi struktural yang dilakukan pemerintah, dalam hal apapun akan selalu dinanti pelaku usaha dan kami percaya ini sangat penting bagi Indonesia agar kita bisa menjadi negara ekonomi besar dan kita harus melakukannya karena kita saat ini benar-benar sangat tertinggal. Masih ada kebijakan yang tumpang tindih, terlalu banyak peraturan yang akhirnya membuat tingkat kemudahan berusaha kita buruk. Karena itu perlu UU Cipta kerja kami percaya ini satu-satunya cara untuk mendatangkan lebih banyak investasi baik dari asing maupun lokal, dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja untuk 112 juta angkatan kerja Indonesia,” kata Shinta.

Lili Yan Ing menyatakan bahwa agar Indonesia tetap kompetitif, pemerintah sebaiknya tidak terlalu banyak melakukan intervensi terhadap pasar. Hanya jika pasar sedang underperforme saja pemerintah bisa turun tangan. Sebaliknya, pemerintah harus fokus menyediakan kebutuhan dasar masyarakat seperti listrik, air, pendidikan dan kesehatan.

“Jika pemerintah mampu menyediakan infrastruktur dasar untuk sektor – sektor tersebut, saya yakin Indonesia bia kembali pada jalur pembangunan ekonomi yang fokus pada peningkatkan kualitas hidup masyarakat, peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat,” kata Dr. Lili Yan Ing.

Merangkum diskusi panel sesi ini, Hadianto membahas tentang tren–tren baru yang muncul di perdagangan internasional.

Ia menyatakan setidaknya ada lima tren baru yang mewarnai perdangan internasional saat ini yaitu perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih produk berkelanjutan dan lokal, makin masifnya penggunaan kecerdasan buatan dan teknologi mutakhir lainnya mengingat saat ini lebih dari 50 persen dari total pneduduk global beralih online, semakin demokratisnya big data, meningkatnya tantangan perdagangan global dari sisi tarif serta maraknya intervensi perdagangan non tarif seperti regulasi dan sebagainya.

Indonesia Economic Forum adalah platform multi-stakeholder yang mempertemukan semua pihak. Indonesia Economic Forum memiliki visi untuk mempromosikan kemajuan ekonomi dan sosial Indonesia dengan mengidentifikasi tren dan peluang.

Sejak didirikan pada tahun 2014, setiap tahun Indonesia Economic Forum telah melibatkan pemerintah Indonesia, masyarakat sipil, komunitas bisnis, akademisi dan organisasi pemuda dalam forum tahunan.

Tahun ini, Forum Indonesia Economic Forum menjadi forum virtual terbesar di Indonesia, dan dihadiri oleh 1.000 peserta dari Amerika Serikat, Australia, India, Singapura, Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Melalui platform digital, Indonesia Economic Forum telah menjangkau lebih dari 3.000 pemimpin eksekutif dan bisnis senior serta lebih dari 1 juta pengikut di Indonesia.

Berita Populer

Tok! MK Terima Sengketa Pilkada Kabupaten Fakfak

INDOSINPO - Sesuai jadwal tahapan sengketa perkara perselisihan hasil Pilkada 2020 di Mahkamah Konstitusi, hari ini memasuki registrasi terhadap permohonan yang diajukan oleh Pemohon. Dari...

Benda Misterius Tulisan China di Anambas, Roy Suryo: Mirip Argo Float Daripada Sea Glider

INDOSINPO - Penemuan benda menyerupai rudal dengan tulisan China menghebohkan warga di Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Benda berwarna biru dengan...

INTI Hadir di Mamuju-Majene Bantu Korban Gempa

INDOSINPO - Gempa berkekuatan Magnitudo (M) 6,2 mengguncang Provinsi Sulawesi Barat pada Jumat (15/1/2021) dini hari. Gempa yang berpusat di 6 kilometer timur laut Kabupaten...

Berita Terkait

Uni Emirat Arab Izinkan Penggunaan Vaksin COVID-19 Buatan China

INDOSINPO - Uni Emirat Arab (UEA) memberi persetujuan darurat atas kandidat vaksin COVID-19 buatan China National Pharmaceutical Group (Sinopharm).

Di Bawah Peraturan Darurat, AS Usir 8.880 Anak Migran Tanpa Pendamping

INDOSINPO - Pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengusir sekitar 8.800 anak-anak migran tanpa pendamping yang dicegat di perbatasan Amerika Serikat-Meksiko sejak 20...

Kereta Kargo Listrik China Ini Kurangi Emisi 817 Ton Karbondioksida

INDOSINPO - Kereta kargo listrik tipe baru telah resmi beroperasi di sebuah pabrik baja di Nanjing, ibu kota Provinsi Jiangsu, China timur,...

Bandara Daxing Beijing Buka Terminal Kota Gu’an, Permudah Check-in Lebih Awal

INDOSINPO - Bandara Internasional Daxing Beijing telah membuka sebuah terminal kota di Wilayah Gu'an, Provinsi Hebei, China utara, yang memungkinkan warga Gu'an...