Semakin Kuat Kecurigaan Virus Corona Bukan Berasal dari Wuhan

0
23
Petugas medis berpose setelah pasien COVID-19 terakhir diizinkan pulang dari rumah sakit darurat Wuchang di Wuhan, Provinsi Hubei, China, 10 Maret 2020. (Xinhua/Xiao Yijiu)

INDOSINPO – Penyelidikan atas gelombang baru wabah COVID-19 di Kota Tianjin, China Utara, memperkuat kecurigaan bahwa wabah itu berasal dari luar China.

Kemunculan kasus-kasus baru di Tianjin telah terbukti berkaitan dengan makanan beku impor. Delapan orang di perumahan Kanhaixuan di area pelabuhan Dongjiang Tianjin telah dinyatakan positif COVID-19 antara 10 dan 20 November, termasuk empat kasus baru yang dikonfirmasi yang dilaporkan Jumat pagi kemarin.

Investigasi epidemiologi menunjukkan bahwa dua dari delapan penduduk yang positif paling awal adalah petugas lokal yang bersentuhan langsung dengan makanan beku impor. Tianjin juga menemukan virus corona pada beberapa sampel makanan beku yang diimpor di awal bulan ini.

Mirip dengan kasus yang dilaporkan di pasar Xinfadi Beijing dan Provinsi Shandong di China Timur dari Juni hingga Juli, kasus di Tianjin adalah contoh lain dari infeksi terkait sistem rantai dingin makanan impor berdasarkan penemuan epidemiologi terperinci.

Seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Peking, Zhou Zijun, mengakui ada kemungkinan virus yang ditemukan di Wuhan pada akhir tahun lalu datang dari luar negeri melalui makanan beku impor.

COVID-19 pertama kali dilaporkan di pasar makanan laut di Wuhan, Provinsi Hubei China Tengah, pada akhir 2019. Sementara itu, penelitian dari kasus-kasus makanan beku impor yang terkontaminasi virus corona di sejumlah kota di China baru-baru ini telah membuktikan bahwa COVID-19 dapat bertahan dan tetap menular ke manusia dalam kondisi dingin.

Lebih banyak penelitian menunjukkan bahwa virus itu mungkin berada di luar China sebelum wabah Wuhan. Sebuah lembaga di Italia baru-baru ini menemukan COVID-19 dalam sampel darah yang dikumpulkan pada Oktober 2019. Sebelumnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengakui bahwa beberapa pasien lokal yang didiagnosis flu tahun lalu mungkin menderita COVID-19.

Karena itu, sangat mungkin Wuhan bukanlah tempat asal virus corona penyebab COVID-19, melainkan hanya tempat pertama kali virus corona jenis baru itu ditemukan dan dilaporkan.

Kepala ahli epidemiologi dari CDC China, Zeng Guang, menjelaskan, pelaporan cepat atas temuan COVID-19 di Wuhan pada Desember 2019 disebabkan oleh sistem pemantauan untuk pneumonia yang didirikan China sejak kemunculan wabah SARS pada 2003.

Zhou Zijun menambahkan, sistem dan teknik pemantauan China memungkinkan pekerja medis untuk menemukan dan melacak COVID-19 pada tahap awal penularan di Wuhan.

“Tetapi itu tidak berarti bahwa Wuhan adalah tempat kelahiran virus,” katanya.

Wakil Direktur Departemen Biologi Patogen di Universitas Wuhan, Yang Zhanqiu, mengatakan, virus itu bahkan mungkin menyebar secara bersamaan di beberapa tempat berbeda termasuk Wuhan dan kota-kota luar negeri.

“Tidak dapat dikesampingkan bahwa virus datang ke Wuhan dari luar negeri,” katanya.

Yang menduga ada negara yang sudah lama mengetahui tentang penularan lokal COVID-19 namun memilih untuk menahan informasi mereka.

“Saya secara pribadi mengenal beberapa peneliti AS yang membatalkan beberapa sampel patogen selama beberapa dekade pada 1980-an,” kata Yang.

“China, sebaliknya, mempublikasikan informasi virus karena pemerintah yang peduli terhadap masyarakat dan personel medis aktif,” tambahnya.

Kasus COVID-19 yang terkait rantai makanan beku impor dan terjadi sporadis di China beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa pemeriksaan ketat terhadap makan impor harus dilakukan secara ilmiah.

Menanggapo tuduhan beberapa media Barat tentang skema pemeriksaan yang dibuat China sengaja dibuat untuk mempersulit produk impor, Yang membantahnya.

” Situasi pandemi di banyak negara tetap serius. Daripada mengeluh tentang China yang memeriksa produk impor, mereka sebaiknya mengontrol penularan virus domestik di negaranya sendiri dan memastikan keamanan produk yang mereka ekspor ke China,” tutur Yang.

Sumber: Global Times