Masa Depan Kampung Pecinan di Era Digital Dibahas Para Ahli

0
24
Gerbang Kawasan Pecinan Glodok di Mangga Dua, Jakarta. (Traveloka/Flickr)

INDOSINPO – Suasana kampung Pecinan yang sibuk, penuh orang dan padat kegiatan ekonomi terasa sangat spesial di antara kampung-kampung lainnya di setiap kota Indonesia dan di banyak negara.

Kegiatan perdagangan menjadi ciri utama, berbaur dengan tradisi budaya Tionghoa yang khas. Bangunan hunian, pertokoan dan tempat ibadah yang marak warna diselingi keindahan kriya kerajinan ukir, kain cita, fashion sampai kulinernya, memang memiliki daya tarik tersendiri. Kampung Pecinan sebagai pusat kegiatan perdagangan juga bisa menjadi generator ekonomi bagi kawasan sekitarnya.

Tapi, bagaimana masa depan “Kampung Pecinan’ dalam menghadapi era industri 4.0 yang serba digital dan mengurangi peran manusia yang menjadi kekhasan dan tradisi? Akankah modernisasi pada kehidupan komunitas Tionghoa akan mengurangi daya tarik pariwisata “Kota Tua”?

Harapan tetap memiliki kampung pecinan yang lebih teratur, bersih dan tetap menjaga tradisi dan seni budaya khas Tionghoa dibahas dalam seminar nasional arsitektur dan budaya yang diselenggarakan Pusat Studi Permukiman Kampung Kota (PSPKK) Universitas Trisakti dan Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti yang bekerja sama dengan Kenari Djaja (perusahaan penyedia kunci dan kelengkapan pintu), pada Kamis (19/11/2020) sore.

Seminar bertajuk “Kampung Pecinan – Kenyataan dan Angan-angan” ini diharapkan bisa memberikan arah perkembangan kawasan komunitas Tionghoa ke depan.

Seminar yang diikuti oleh 524 peserta ini juga dihadiri Direktur Utama sekaligus Founder PT Kenari Djaja, Hendra Sjarifudin. Dari pihak pemerintah pun hadir diwakili Direktur Rumah Khusus Kementerian PUPR, Ir Johnny FS Subrata, yang menjadi pembicara kunci.

Narasumber terdiri dari Prof. Dr-Ing. LMF Purwanto (Peneliti Kampung Pecinan – Universitas Soegijapranata, Semarang), Dr. Ir. FX. Eddy Arinto March (Peneliti Perumahan dan Permukiman – Universitas Atmajaya Yogjakarta), dan Punto Wijayanto ST. MT (Peneliti Kawasan Kota Pusaka – Universitas Trisakti).

Seminar ini ditujukan kepada para arsitek milenial, mahasiswa jurusan arsitektur, arsitek perkotaan, dan para pengembang properti serta masyarakat umum yang memegang peran dalam bisnis dan pariwisata di kawasan heritage perkotaan.

Sebagai pembicara kunci, Johny FS Subrata mengakui bahwa beberapa ciri bangunan khusus yang terdapat di Pecinan menjadi perhatian pemerintah. Sejumlah pemikiran tentang potensi kampung pecinan seperti di Jawa Tengah, meliputi filosofi dan sejarahnya, dibahas mendalam oleh Prof. Dr-Ing. LMF Purwanto.

Sedangkan Punto Wijayanto mengkaji berbagai potensi di kampung pecinan yang memiliki benang merah sejarah dengan awal kedatangan bangsa Tiongkok. Arsitek muda dari Universitas Trisakti ini melihat kampung pecinan adalah bagian dari kawasan Kota Pusaka di Indonesia.

Direktur Kenari Djaja, Hendra Sjarifudin, berharap banyak ide kreatif dan inovatif dalam menjaga kelestarian peninggalan bersejarah di kawasan perkotaan melalui pemikiran akademik dan teknologi industri modern.

“Sebagai penyelenggara, saya menikmati sekali pemikiran para arsitek untuk mengembangkan kampung pecinan menjadi kawasan yang lebih baik dan modern tanpa menghilangkan ciri khasnya sebagai kawasan perdagangan yang dibanggakan masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia,” ujar Hendry.

Sementara itu, Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti, Dr.Ir. Etty R. Kridarso, MT, menyambut baik kolaborasi para arsitek dari beberapa universitas yang masing-masing memiliki keahlian tentang kawasan pecinan di perkotaan.

“Kita bisa mendapatkan banyak ide yang inovatif untuk membangun salah tujuan pariwisata urban yang unik dan tetap populer ini,” ucapnya.

Laporan: Krispri